
Pada sore hari di tahun caka 1932 (tahun 2010) kami dari Banjar Umadesa mengusung ogoh-ogoh dengan tema
Calonarang. Ogoh-ogoh
Calonarang ini telah dipersiapkan selama 1 bulan. Saya dengan anggota pemuda di Banjar
Umadesa, Desa Peguyangan Kaja, Kota Denpasar mengambil tema
Calonarang
ini untuk mengambil karakter jahat dari tokoh ilmu hitam yakni
Matah Gede yang berubah menjadi
Rangda dan muridnya
Condong yang berubah juga menjadi
Celuluk, mereka
berdua dengan murid-muridnya menebar rasa takut dan penyakit yang menyengsarakan masyarakat di wilayah musuhnya. Sifat negatif inilah yang
akan dikembalikan
keasalnya di malam
Pengerupukan dengan cara dibakar.
Proses
pengerjaan ogoh-ogoh ini, pertama-tama dimulai dengan perancangan kerangka dengan kayu, kemudian
pembentukan badan menggunakan anyaman bambu (bambu untuk bahan gedeg).
Setelah anyaman bambu dirasa cukup rapat kemudian dilanjutkan dengan
menempel dengan kertas bekas (koran, pembungkus semen, dll). Untuk bahan
topeng menggunakan kayu, hal ini dilakukan untuk mendapatkan karakter dan taksu dari ogoh-ogoh. Dan telapak tangan dan kaki menggunakan gabus (Styrofoam).
Bahan gabus dipilih karena sifatnya yang gampak dibentuk dan ringan,
sehingga mudah dibentuk. Setelah semua terpasang maka dilanjutkan dengan
pengecatan dan mewarnai detail-detail bentuknya. Kemudian dilanjutkan
pemasangan rambut, kain dan asesoris-asesorisnya.
Pembiayaan
ogoh-ogoh diperoleh dari sumbangan warga setempat serta dari beberapa
pemilik usaha di wilayah kami. Rasa kebersamaan dan kreativitas para
pemuda menjadi modal dan semangat kerja dalam menciptakan ogoh-ogoh
ini.